KEGIATAN Listed all our awesome blog posts, hospital news!

Kaum Muda Desa Bergerak Mbangun Desa

Kaum Muda Mbangun Desa, judul yang dipakai pada kegiatan diskusi yang diinisiasi oleh Padepokan ASA @Wedomartani dan Pusat Studi Jawa. Sebenarnya konsep ‘Mbangun Desa/Deso’ sudah lama dikenal oleh warga Jogja, mengacu pada judul acara televisi yang pernah ditayangkan TVRI Jogja pada kurun tahun 90-an. Warga Jogja yang pernah menonton acara ini pasti familiar dengan nama-nama Den Baguse Ngarso, Pak Bina, Kuriman, dan Sronto. Jalan ceritanya mengangkat kehidupan sehari-hari warga desa serta berbagai permasalahan sosial yang menghinggapinya. Cerita yang dibalut dengan unsur komedi tak serta merta menjadikan acara ini bersifat hiburan semata, lebih jauh konsep acara berusaha memberikan edukasi pada warga Jogja kala itu untuk bagaimana membangun desanya agar mampu menyelesaikan persoalannya dan mampu membangun desa versi masyarakat desa.
Kembali ke Kaum Muda Mbangun Desa, diskusi yang diadakan pada hari Rabu tanggal 14 Oktober 2015 di Pendopo Padepokan ASA ini mencoba untuk berbagai pengalaman serta mendorong kaum muda agar mampu menjadi agen dalam memajukan desanya. Diskusi ini diisi oleh berbagai narasumber dari berbagai bidang, yaitu Ryan Sugiarto, A. Nugroho, dan Yuphita Nofianti.

IMG_20151014_155816
Diskusi Kaum Muda Mbangun Desa dihadiri oleh berbagai kalangan di Jogja
IMG_20151014_152559
Pemantik diskusi, Nugroho dan Yuphita (kaos putih)

Pada sesi pertama, Ryan Sugiarto yang juga seorang penulis dari Pusat Studi Jawa membeberkan tentang fungsi pengangkatan kearifan lokal sebagai jalan untuk membangun desa. Kearifan lokal dapat berupa petilasan bangunan fisik, kesenian yang masih terus dilestarikan, ataupun hasil pemikiran yang masih terus dianut dan dijadikan patokan dalam bersikap. Dalam kesempatan ini Ryan memberi contoh tentang pemikiran Ki Ageng Suryo Mentaram yang masih dijadikan panutan oleh warga di Dusun Balong. Kearifan lokal semacam ini mampu dimanfaatkan sebuah desa untuk dijadikan branding, entah dimanfaatkan sebagai desa budaya, desa wisata, atau lebih jauh menjadi spirit yang bisa dijadikan acuan warganya dalam membangun desa.

Sesi kedua diisi oleh A. Nugroho yang merupakan salah satu pemerhati gerakan kaum muda di Jogja. Menurutnya kaum muda di Jogja memiliki kapasitas yang tinggi untuk menjadi bagian dari pembangunan desa. Kaum muda mampu menjadi agen penting di dalam gerakan pembangunan desa, salah satunya aset berharga meraka yang bernama jaringan. Dalam membangun desa tidak akan bisa berhasil jika hanya mengandalkan bagian dari dalam desa itu sendiri. Harus ada support dari pihak di luar desa yang mampu mendorong perkembangan desa. Dengan jaringan sosial serta komunikasi yang luas dari kalangan kaum muda diharapkan mampu menjadi modal besar bagi pembangunan desa yang bersangkutan.
Sesi terakhir diisi oleh Yuphita Nofianti, seorang pemerhati publikasi visual. Yuphita memberi materi tentang bagaimana membuat konten poster visual yang dapat menarik orang untuk sekedar membacanya. Dalam kasus desa wisata ataupun desa budaya, event menjadi salah satu daya tarik untuk memperlihatkan potensi desa yang dimiliki. Lebih jauh Yuphita memberi contoh dalam pembuatan event desa yang membutuhkan publikasi poster untuk menarik massa. Poster yang baik adalah pertama mampu menarik orang untuk sekedar meluangkan waktu untuk melihat dan membaca, kedua mampu mengungkapkan pesan hanya dalam selembar poster, dan yang ketiga mampu membuat orang untuk tertarik menghadiri acara. Menurutnya sudah banyak poster-poster yang beredar via jejaring media sosial, namun hanya sedikit yang memenuhi kesemua kriteria di atas. Publikasi yang baik dan efektif mampu menjadi salah satu pendorong dalam mengajak masyarakat untuk dapat berkunjung dan mengikuti event-event yang diadakan oleh desa yang bersangkutan.
Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk merangsang kaum muda agar mau mambangun desanya adalah memberikan penyadaran bahwa mereka sendiri mempunyai potensi yang besar untuk dapat melakukannya. Penggalian potensi lokal, pemanfaatan jejaring komunikasi, serta publikasi yang efektif mampu menjadi modal bagi kaum muda untuk bisa membangun desanya, bersaing dengan kota yang sudah sedemikian modern.
Wahai kaum muda desa, mari bergerak membangun desa!!!!

Tweet Like Share Share Pin it Email

What others say about “Kaum Muda Desa Bergerak Mbangun Desa” ? (0 Comments)

Leave a Comment